Antara Survey dan Realitas
28 Februari 2010 | Featured
Survey, sebuah kata yang akhir-akhir ini seolah begitu penting dalam kancah politik praktis baik untuk tingkat nasional maupun lokal. Sebuah survey politik, demikianlah kira-kira. Termasuk pula dalam rangka pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) Kalimantan Selatan yang akan dilaksanakan pada 2 Juni 2010 yang akan datang. Tidak hanya untuk Pemilukada Kalimantan Selatan, melainkan juga untuk Pemilukada Kabupaten/Kota.
Sejumlah partai politik secara jelas menyatakan bahwa calon yang akan mereka usung adalah calon yang unggul berdasarkan hasil survey internal yang mereka lakukan.
Partai A menyatakan mendukung si A untuk menjadi kandidat kepala daerah, karena yang bersangkutan unggul berdasarkan hasil survey. Sementara Partai B pun tak berbeda, bahwa mereka akan mendukung siapapun yang unggul berdasarkan hasil survey, yang kebetulan si B.
Lantas, perlukah mempertanyakan akurasi sebuah hasil survey jika masing-masing partai berbeda?
Jelas, bagi saya mempertanyakan hal tersebut sama sekali tidak penting. Buang-buang waktu dan energi saja. Menggunakan metodologi apapun tidak menjadi penting bagi saya untuk konteks politik praktis macam tersebut di atas.

Survey & Realitas Pilkada Kalimantan Selatan
Pada suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan salah satu fungsionaris partai politik di Kalimantan Selatan ini. Pembicaraan tentang survey dan pencalonan ini.
Saat mengajukan pertanyaan, apakah partai tersebut benar-benar mendukung seseorang berdasarkan hasil survey, karena Ketua Partainya sendiri menyatakan bahwa calon yang kemudian mereka usung itu kalah berdasarkan hasil survey. Pertanyaan saya ajukan sembari mengajukan salah satu contoh kandidat kepala daerah untuk salah satu tingkat.
Beliau hanya tersenyum dan mengatakan, bahwa kandidat terkait begitu berusaha untuk dijadikan calon resmi dari partai tersebut, ia melakukan lobi yang begitu intensif. Sebuah jawaban sederhana dan tidak langsung. Setidaknya menurut saya. Namun jelas kian mempertegas keyakinan saya, untuk:
Sama sekali tidak ambil pusing akan soal survey dan hasil survey soal kandidat kepala daerah. Fakta empiris kadang sangat berbeda dengan apa yang terpapar di media.
Pada kali lain, beberapa bulan lalu, salah satu kandidat kepala daerah tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Selatan ini berkata pada saya, perlukah kiranya bagi beliau untuk melakukan survey.
Untuk tujuan dan kepentingan tertentu, saya katakan bisa jadi diperlukan. Bagaimanapun survey -sebenarnya sudah lama- telah menjadi sebuah instrumen politik. Namun, jika dikaitkan dengan dasar pencalonan seorang kepala daerah, nanti dulu. Tentu saja soal yang nanti dulu ini tidak saya sampaikan. Tau sama tau saja lah…
Pakacil Netnews dikelola dari Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebagai salah satu rangkaian media online Pakacil yang terdiri dari pakacil.net ; pakacil.com dan pakacil.org
Komentar (4)
Tinggalkan Balasan | Trackback URL


Saya udah tau mas..wuihihihihihihhi
nah, kalau begitu kita tau sama tau ya Chal…
itu berarti partai tersebut telah melakukan kebohongan publik dan calonnya tidak pantas dipilih
siapa itu?
kalau ditanyakan siapa, itu sepertinya Ichal, yg komen pertama juga tau. jadi tak perlulah disebutkan di sini