Habis Lihan Terbitlah “Bima”
26 Februari 2010 | Featured
Masih ingat Lihan? atau mungkin Anda pernah dengar nama Bima? Bagi banyak orang, utamanya di Kalimantan Selatan nama Lihan memang begitu fenomenal. Namun Bima, mungkin sebagian orang hanya mengenalnya sebagai salah satu tokoh dalam dunia pewayangan. Lagi pula, nama Bima dalam konteks tulisan ini sekedar sebutan pendek saya secara pribadi atas sebuah usaha yang mungkin lebih ‘dahsyat’ dari pada Lihan tempo hari.
Bimatara Jaya Abadi, itu lengkapnya nama sebuah persekutuan komanditer yang mulai beroperasi di Banjarbaru pada Agustus 2009 lalu. Konon, dalam usahanya, investor dapat memperoleh keuntungan minimal sebesar 10%.
Sejujurnya, tidak banyak yang saya ketahui tentang Bimatara ini, selain dari pada informasi minimal yang didapatkan, bahwa mereka melakuan trading yang -katanya- terafiliasi dengan PT. MPF yang berkantor pusat di Menara Kebon Sirih Jakarta sana.
Karenanya, saya saat ini tentu sama sekali tidak dalam posisi untuk beropini, apalagi memberikan penilaian atas usaha yang mereka lakukan.
Hal menarik bagi saya adalah, rerata investor yang masuk pada bisnis Bimatara konon adalah mantan ‘investor’ yang kecewa dengan Lihan. Setidaknya itulah informasi yang disampaikan oleh pimpinan Bimatara.
Pada titik itulah, suatu hal yang sangat manusiawi kembali menampakkan dirinya. Bahwa kita, manusia ini, sangat menginginkan untuk memperoleh keuntungan secara cepat dan besar dalam tempo cepat. Pada sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, sebegitu mudahkah masyarakat kita ‘sembuh’ dari sebuah ‘trauma’? atau malah sama sekali tidak merasakan “trauma”?
Perhatian utama saya adalah pada sikap mental. Keinginan untuk untung besar, cepat dan mudah mungkin adalah sifat dasar. Namun apakah sifat dasar tersebut yang akan mendominasi seseorang atau tidak adalah persoalan lain, yang sama sekali berbeda dan justru lebih menentukan.
Logika saya yang sangat sederhana menyebutkan, tidak ada usaha yang dapat memberikan kepastian akan selalu untung, sekalipun terlepas dari perspektif transendens.
Benar, bahwa untuk menerjuni sebuah usaha kerap kali harus didasarkan pada kalkulasi logis. Namun juga tak menutup kemungkinan untuk melakukannya dengan apa adanya, mengalir saja. Semua pintu kemungkinan dapat terbuka. Hal dasar yang menjadi pembeda adalah sikap mental.
Jika semua didasarkan pada prinsip easy money, maka tentu harus dibarengi dengan adanya sebuah kemungkinan lain, yakni easy come easy go.
Sejarah voucher dan Lihan bagi saya hanyalah sebuah trigger dari dominasi sikap mental tertentu. Karenanya, berusaha mengenali dan berhati-hati atas keuntungan yang menggiurkan tentu menjadi langkah yang paling bijaksana.
Berani usaha tentu harus berani rugi.
Pakacil Netnews dikelola dari Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebagai salah satu rangkaian media online Pakacil yang terdiri dari pakacil.net ; pakacil.com dan pakacil.org
Komentar (13)
Tinggalkan Balasan | Trackback URL


Ternyata banyak orang yang tidak ” kenal ” dengan yang namanya trauma .. contohnya sudah banyak, mereka kaya mendadak, ambruknya juga mendadak…, nah dengan begitu mereka akan kembali dan berpikir bangkit dan menjadi kaya mendadak lagi dengan cara cara seperti itu….
kalau didasarkan pada sikap mental tidak takut untuk mencoba berusaha, saya sih tidak masalah, karena memang harus begitu.
tapi kalau karena semata-mata karena alasan tergiur, itu yg bikin saya bingung.
Nah…kada ada pulangkah..?? kalau bisa kita umpatan dulu ya 2-3 bulan..biasanya aman kalau masih hanyar buka…wkkwk..! spekulasi kaya dulu he…he..(ingat aja kalo..?)
Kalau masalah lihan ya..biarlah..anggap menyumbang aja..!
hehehe… bisa jua pang 2-3 bulan aja
asal bisa tahan diri dan nafsu.
masih menghubungkan dengan sifat orang banjar yg jarang pernah tekun untuk bekerja..beda dengan orang banjar yg merantau semuanya sukses…termasuk saya ini..wuihihihihi
kalau merantau tapi malas²an tentu sama saja dengan bunuh diri
tapi ini bukan bentuk promosinya kan? hehehe … jangan2 sdh lewat 2-3 bulannya nih, hehehe
oww… bukaaan. sama sekali bukan. hal macam ini tidak menarik buat saya.
1 hari saja belum, apalagi lewat 2-3 bulan
untuk menjadi kaya secara wajar perlu berusaha …
untuk menjadi kaya secara mendadak bisa ikut hal seperti begitu ..
kalau Pakacil pilih yang mana??? he he
untungnya saia memang tidak pernah tertarik atau tergiur untuk urusan macam itu. saia menghargai proses.
[...] Sebelumnya, pakacil.net pernah menerbitkan tulisan opini (pada kolom featured) yang berjudul Habis Lihan Terbitlah “Bima” pada 26 Februari 2010 lalu. Yakni sebuah usaha yang dilakukan oleh CV. Bimatara Jaya Abadi (BJA) [...]
trader yg bijak adalah mengelola money management risk sendiri,baik profit/loss resiko ditanggung sendiri
kaya hati laham kada dicari… kaya harta aur nang disasahi…… parak dah kiamat saku ?