Paduan Suara Pemilukada
16 Maret 2010 | Featured
Untuk waktu yang tidak terlalu lama lagi, Propinsi Kalimantan Selatan serta sejumlah Kabupaten/Kota akan melaksanaan pemilihan umum kepala daerah (PEMILUKADA). Sejumlah daerah akan memiliki pilihan, melanjutkan kepemimpinan yang ada, ataukah mempercayakan pada sosok baru sebagai kepala daerah.
Namun, apa yang saya tuliskan kali ini tentu saja bukanlah soal hal tersebut. Ini adalah sebuah sisi lain yang menggelitik.
Berikut sedikit pertanyaan yang muncul di benak saya:
Adakah kandidat yang menyatakan tidak ingin membuat masyarakat sejahtera?
Tidak ada. Semua kandidat menyatakan ingin membuat masyarakat lebih sejahtera.
Adakah kandidat yang menyatakan tidak ingin daerah ini maju?
Rasanya tidak ada. Semuanya ingin daerah ini, Kalimantan Selatan maju dan berkembang.
Adakah calon yang berani tidak memperhatikan pendidikan dan kesehatan?
Nekad betul kalau ada yang berani mengabaikan hal tersebut, dan sejenisnya. Semuanya sepertinya sama. Pendidikan dan kesehatan menjadi perhatian serius.
Adakah calon yang ingin menaikkan harga sembako?
Luar biasa konyol kalau ada yang berani. Tentu tidak ada. Saya yakin, semuanya ingin bilang akan berusaha supaya sembako murah.
Masih banyak pertanyaan sejenis lainnya. Persoalannya adalah, semua jawabannya sama. Lantas, kalau memang semuanya sama, apa bedanya dengan “paduan suara” atau vocal group?

"Paduan Suara" Para Kandidat Pemilukada
Tentu saja tidak sepenuhnya sama. Karena yang namanya paduan suara tentu juga diatur sedemikian rupa. Ada suara satu, dua dan seterusnya sehingga membentuk sebuah harmoni yang enak di dengar telinga.
Pada pemilukada, itulah mungkin yang harusnya membedakan. Diantara kesamaan seluruh wacana dan umbar kata, seharusnya ada warna yang berbeda, ada program yang menjadi unggulan dan bisa diketahui masyarakat. Kalau tidak ada, ya artinya sama saja dengan menonton pertunjukan paduan suara yang membosankan.
Bahkan, kalaupun semua sama, bisa jadi akan terdapat cara mewujudkan yang berbeda.
Saat semua calon bicara soal kesejahteraan, maka pertanyaannya adalah, bagaimana cara mewujudkannya menurut sang kandidat. Saat semua kandidat bicara sembako murah, tentu harus disertai dengan bicara soal produksi, distribusi dan lain sejenisnya.
Namun demikian, para kandidat kepada daerah tidak usah khawatir. Pertanyaan detil dan/atau soal feasibilitas sebuah janji itu bukanlah pertanyaan mayoritas pemilih.
Sehingga, tak dipaparkan secara jelaspun tak akan memiliki pengaruh besar. Cukup katakan akan memperjuangkan sembako murah, pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan, mayoritas pemilih akan senang.
Tinggal nanti diberikan penjelasan, bahwa yang namanya perjuangan itu bisa berhasil dan bisa pula gagal. Yang penting sudah berjuang, ikhlas menerima hasil. Hal yang penting, semuanya bisa diterima oleh pemilih, dan pemilih senang.
Nampaknya, kurang kritisnya pemilih dapat menjadi berkah tersendiri bagi para kandidat. Sehingga tidak perlu repot-repot memberikan penjelasan dan konsepnya secara jelas.
Lantas, apakah ini kemudian berarti saya menuduh dan menyatakan pemilih kita kurang cerdas? Oh tidak, sama sekali tidak. Layaknya para kandidat, mana berani saya bilang masyarakat kita kurang cerdas dan menentang orang banyak.
Anggap saja ini kompor, dari mereka yang tadinya tak acuh menjadi peduli, dari yang pasif menjadi aktif, dari yang tak mau tau menjadi mencari tau. Biar pemilih tak dibohongi oleh iklan politik dan sejenisnya. Menjadi seorang pemilih yang rasional, bukan emosional.
Pakacil Netnews dikelola dari Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebagai salah satu rangkaian media online Pakacil yang terdiri dari pakacil.net ; pakacil.com dan pakacil.org


