Mendadak Poligami
Poligami, ini istilah keren namun rumit. Rumit dimananya? Tau lah, pokoknya nampaknya rumit saja, tidak usah dibahas berkepanjangan di sini. Kali ini sekedar cerita kalau tiba-tiba, ujug-ujug berpoligami secara tidak sengaja, pada suatu sore. Kapan itu? Kemarinlah waktunya.
Kemarin sore, jalan-jalan dengan 3 (tiga) orang perempuan, salah satunya adalah isteri, dan dua lainnya adalah kawan sewaktu masih SMP dulu, Dini dan Ria namanya. Itu perempuan yang kawan-kawan masing² sudah memiliki 2 orang anak. Satunya dosen satunya lagi analis. Membawa tiga orang perempuan jalan² sekaligus maka sudah tentu profesi utama saya adalah sebagai supir.
Karena isteriku harus menyelesaikan suatu urusan di kantornya, jadilah saya dan 2 orang kawan perempuan jalan² di mall di Banjarmasin, yang berjarak ±35an Km dari Banjarbaru.
Pertama-tama, bertemu dengan mbak penjual wewangian pabrik, atau kerennya parfum. Disodorilah olehnya selembar kertas yang memiliki aroma parfum, sebagai contoh bau tentu. Karena tidak berminat, apa yang kubilang padanya? Lantas menyampaikanlah, “terima kasih mbak… kasih buat isteri-isteri saya saja”, sambil menunjuk ke arah 2 orang kawan SMP saya itu, Dini dan Ria.
Sayanya tidak tau bagaimana reaksi kawan berdua, tapi yang jelas mbak yang jualan tersenyum manis, tapi mendadak kuping saya mendengar suara Ria yang berkata dengan jelas, “Iya mba… ini lagi akur!”. Oh duniaaa… jadilah saya tau persis, bahwasanya ternyata jarang akurnya kalau begitu. Haha…
*yiha*
- 11.17 Wita – Sebentar, cerita dihentikan sejenak. Ada kawan datang… mungkin dia mau curhat, atau apa, masih belum tau. nanti disambung lagi…
…….
Oh, ini sudah jam 12.24 wita rupanya, kawanku baru saja pulang, cerita dilanjutkanlah lagi. Sampai mana tadi? Sebentar, dibaca lagi dari atas, jangan sampai terulang…. …. …. …. Oh itu, sudah sampai soal parfum, artinya baru sesi satu. Lanjuuuut…
Bertiga, memasuki itu salah satu jaringan ritel nasional, dua orang ibu² itu asik lihat-lihat sepatu, pilah-pilih, kesana-kemari. Perlukan diceritakan bagaimana para perempuan memilih sepatu? Tidak perlu. Kenapa? Karena kupikir kawan² sudahlah tau bagaimana rasanya.
Naik ke lantai atas, Ria lantas asyik memilih-milih baju koko, buat anak²nya dia bilang padaku. Ternyata Dini hilang, ya entah kemana dia meluncur, tertinggal saya dan Ria. Melihat ada yang memilih barang dagangan, muncullah seorang Sales Promotion Boy (SPB), bilang dia, “silakan pak, bu…”.
Karena Ria bilang padaku, bahwa selalu lebih pas itu kalau bawa anaknya langsung untuk milih, jadilah ia bilang pada itu SPB, “Iya nih mas, lagi milihin baju buat suami, tapi dia bilang ga suka”. Jadilah itu SPB senyum dan sayanya pun berkata, ” iya mas, kita lihat² yang lain dulu ya… terima kasih”. Berjalanlah saya dengan wajah tenang dan ada suara dalam hati, “asem… haha…”.
*cape*
Itu yang hilang, Dini, sudah ditemukan nyempil di area baju anak-anak, milih² baju buat 2 orang anaknya. Baju anak² yang bikin heran, ukurannya kecil yang notabene irit bahan tapi malah mahal-mahal.
Keluar dari itu toko, jalan lagi. Kali ini sampai ke sebuah toko furniture. Ada kursi yang modelnya itu bisa ditarik-tarik dan jadi mirip ranjang. Dini dan Ria sontak duduk di sana, nyoba, sayanya cuma berdiri melihat kelakuan ibu² itu. Kali ini yang datang menghampiri adalah Sales Promotion Girl (SPG). Tentu senanglah kalau ada kawanku yang bikin ulah, kali ini si Dini.
“Mas, belikan yang itu dong…”, katanya Dini padaku sambil menunjuk ke sebuah kursi yang harganya beberapa juta rupiah itu. Oh kawan, demi mendengar permintaan itu, jadilah sang SPG kian bersemangat memberikan penjelasan baik teknis maupun tata cara pembayarannya.
Begitu ada jeda sang SPG memberikan penjelasan, kusampaikan dengan wajah datar, “biarlah mereka berdua saja yang memutuskan mau yang mana”, kubilang sambil menunjuk ke arah Dini dan Ria. Sayanya balik badan, maksudnya adalah untuk meninggalkan itu doa orang ibu² ngobrol sama SPG, biar tau rasa. Tapi ternyata mereka ikut angkat pantat dari duduknya, beranjak. Katanya, kenapa aku yang pergi, padahal itu Ria mau nanya, kursi mana yang muat buat bertiga. Oh duniaaa…. ternyata urusan kursipun bikin rumit kalau poligami.
*doh*
Sudah hampir jam 8 malam rupanya, isteriku sudah menunggu di sebuah toko buku rupanya. Kami nyusul masuk ke sana. Karena kalau di toko buku itu, sayanya selalu langsung datang ke customer service, bertanya tentang buku yang diinginkan, jadilah sang petugas yang mengambilkan. Tak pernah berlama-lama. Beberapa buku sudah dalam tangan, disepakati untuk pulang. Cape, dan kasihan anak² mereka menunggu di rumah.
Yah… itu saja beberapa di antaranya kejadian dari kemarin sore, sampai malam. Sisanya biar disimpan di memori saja. Isteriku cuma tertawa begitu diceritakan kelakuan kawan²ku itu, maklum dia. Cuma memang ternyata tidak mudah poligami itu ya… dari urusan parfum sampai kursi bisa bikin pening.
*kabur*
Namun, pernahlah kubilang pada isteriku yang satu-satunya itu, bahwa “jikalau aku nikah lagi, maka itu karenalah aku hanya ingin tau, apakah kasih sayang perempuan lain padaku itu sebesar kasih sayangmu padaku”. Apa jawabnya, isteriku itu? plakk….
*ngakak*





hahahahahahah….
kalau begitu akurnya, maulah bunda jadi poligami yang ke empat saja Pakacil *guling*
salam
hahaha…
nantilah dibicarakan dulu dengan yang sudah ada, jangan sampai jadi masalah
*guling*
pakacil gak bakalan sanggup poligami Bun,
baru melirik selokan punya tetangga aja, ud thypus dianya *no*
hihihi… hidup sih harus optimis, pesimis itu artinya kalah sebelum bertempur. tapi khawatir juga sih kalo dipaksa bunda jadi mantunya hahaha… sungkan nolaknya
*yiha*
kalo judulnya sudah berawalan poli- itu jarang ada yang endingnya bagus, contohnya pak policarpus, dan polibeg.
dan begitulah, soal lainnya piya nang lebih paham detilnya *eh
*yiha*
poli klinik?
poli teknik?
poli tr*n?
poli ball?
poli si tidur?
*hmm*
hayah, typo, maksudnya di atas piyan, maklum tadi ngetes keyboard eksternal warisan kawan, dan siapa itu curhat sampai 5 jam lamanya ? sungguh… *kabur*
hah?!? 5 jam? silakan dihitung ulang
*doa*
sesekali hetrik ah, mumpung belun bulan ramadhan..
ya, stok maapnya silakan diambil di depan
nanti pas lebaran kita hitung ulang
*nyerah*
knp maka typo pulang ? belum maksudnya
pasti grogi karena kibod warisan, pasti! *siul*
*kaget*
waduh, tapi terima kasih lah kang martho atas pujiannya
segala hal yang rumit menyangkut kursi dn parfum sampai masalah penghidupan akan hilang dengn kesenangan ketika dah di tempat tidur… apalagi … (membayangkan wanita yang dah lama terpendam dalam hati) wakakak
dan konon, cinta itu akan indah dan menyenangkan jika cukup untuk dirasakan, namun akan membawa bencana jika sudah timbul tuntutan untuk memiliki
*siul*
Heh? Mall yang baru itu ya? saya belum pernah kesana. *sapa yang nanya*

Poligami tentu bikin pusing (kata orang sih). Kalo yang satu dibelikan rumah, yang lain juga minta dibelikan. Kan mesti adil katanya
don’t try this at home, hehe…
jadi, sudah pernah ke sana, ibu? *sekalian di tanya saja*
tenang, sayanya ga bakalan trai det et hom, tapi et mol…
*doh*
bagi yang tidak mengurusi kursi maupun parfum, dianggapnya poligami itu ndak bikin pening… *siul*
hahaha… bener juga ya…
*kabur*
Cerita tentang pligami emang slalu menarik, apalagi kalau mendadak-mendadak…
jadi pak mars tertarik gitu?
*siul*
duh, memang agak sulit menjelaskan bagaimana rasanya, manis ada, agak sepet juga ada haha…
Saya secara pribadi meminta maaf apabila selama ini ada
perkataantulisan yang kurang berkenan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang banyak kurang nya.Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Sama-samalah kita mas sugeng, sayapun demikian adanya
Itu masih masalah kursi dan parfum, belum masalah dapur dan ranjang. Heks,… poligami cuma nikmat diranjang, bukan nikmat diruang lainnya
iya kalau ranjangnya muat. kalau ranjang kecil? kan tidurnya juga sudah jadi macam sarden. hahaha..
bagaimana yah kalau poligaminya tidak mendadak tapi direncanakan dengan baik….apakah ribet juga yah???
kalau direncanakan sih namanya tidak spontan, unsur drama dan kejutan tidak terduganya kurang. haha…
aku suka adegan terakhirnya pak..
“plaak…
klo ada foto pas plak-nya
asyik tuh
*guling*
waaaah.. tidak benar ini mas ahmed
suka adegan kekerasan, tidak mendidik itu. hahaha….
klo dini dan rianya mau dan sang istri ngijinin mau nggak pak…
#harus kerja 3 kali lebih keras nampaknya….
#dan plakkk nya juga 3 kali lebih sering….
qiqiiqiqi…..
waduh, pertanyaan mas sriyono ini menyimpan potensi yang membahayakan. jadi lebih baik jawabannya lebih baik disimpan dan disampaikan via bluetooth saja ya.. haha…
wwkkwkwkkkkkk…
ketawa terus ne tiap judul…
walah… eheh…
hahahhaha… sokor kena tabok istri. kl nanti suamiku tanya hal serupa, bakal mendapat jawaban plak juga
waaaah… kenapa malah disukurin, bukannya prihatin
kan harusnya punya semangat corps sesama pengeblog haha…
gkgkgk tidak ada wanita yang rela dipoligami…
malah kadang sebelum nikah sudah ada ancaman untuk tidak poligami dr istri xixixi
ups… padahal sesuatu yang diawali dengan ancam-mengancam itu kurang bagus lho… hahaha…
yuu…icazia itu slah satu tokoh di poligami imak…
…email anakku itu…
Semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang banyak kurang nya.