 Asal Jepret Beberapa hari terakhir ini, saya kerap bolak-balik ke Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Tentu saja karena urusan pekerjaan. Sejujurnya, saya sangat menyenangi setiap perjalanan ke Tanah Laut. Alasannya cuma satu, suasana. Perjalanan ke Tanah Laut adalah salah satu yang paling membuat saya merasa nyaman. Tidak ada sesak debu dan aroma pekat polusi, melihat hamparan pepohonan, aroma tanah dan rerumputan basah yang selalu membuat saya bahagia, melihat pegunungan walau saya tak bisa naik-naik ke puncak gunung, yang mungkin tinggi tinggi sekali.
Entah kenapa, saya begitu menyukai pepohonan...
Namun, bukankah roda selalu berputar kalau ia tak diam. Ada juga saat-saat dimana perjalanan sedikit terganggu, macam yang kali ini terjadi. Saat alam bekerja menurut hukumnya sendiri, maka alam tak akan pernah mengindahkan maunya kita, manusia-manusia yang konon katanya memiliki akal dan perasaan ini.
Kala bencana datang menjelang, manusia beralih tempat mencari tempat yang dianggap aman. Ini mungkin adalah naluri dasar makhluk hidup untuk bertahan. Namun, apakah akan ada tempat yang sepenuhnya dijamin bebas dari prahara? Bahkan tempat yang bernama aman-pun bisa menjadi tak aman ...
Mungkin, hanya anak-anak, pewaris masa depan, yang -mungkin- masih mampu menikmati masa-masa seperti ini dengan riang gembira, bermain dan bercengkarama sesamanya...
Entah bagaimana bertahun dan berpuluh tahun yang akan datang. Saat anak-anak itu sudah mulai besar dan mengerti bahwa hidup juga mengandung kewajiban terhadap alam. Masihkah mereka memiliki kesempatan untuk memanfaatkan alam dan menikmati apa-apa yang tumbuh di atas alam ini ...
Saya hanya bisa melamun, karena paling tidak, itu adalah kehebatan saya yang tidak akan saya tinggalkan, karena toh... saya juga tak pernah melamunkan menghacurkan alam.
|