|
Sabtu, 03 Januari 2009 |
Sewaktu saya kecil, mungkin juga banyak di antara teman-teman memiliki hobi yang sama, yakni bermain-main ke sawah atau hutan atau tempat tertentu lainnya. Kebetulan tak jauh dari rumah saya terdapat sawah serta hutan pinus. Saya juga dulu suka bermain-main air di sawah, tapi saya tak sampai menemukan kepik emas sebagai mana yang diliat Mas Ardianz.
 Karamunting Namun, dulu saat masih suka bermain di hutan dekat rumah, banyak tumbuh tanaman Karamunting. Seingat saya dulu ada dua jenis, karamunting biasa dan karamunting kodok. Karamunting kodok ini saya tak tau nama resminya, saya taunya menyebutnya begitu saja dari teman-teman, yang jelas bukanlah jenis yang tidak bisa dimakan. Mau liat karamunting?
Buah Karamunting yang sudah masak di pohon
Kemarin, kembali saya melihat buah Karamunting ini di daerah Palam Banjarbaru, setelah bertahun-tahun tak melihatnya karena padang Karamunting di dekat rumah saya sudah berubah menjadi kawasan perumahan. Dulu, sewaktu berburu karamunting, kadang kami mendapatkan sampai 1 kantong plastik besar berisi penuh karamunting. Namun jika terlalu banyak menkonsumsi karamunting ini, dijamin akan sulit buang air besar.
Namun, kali ini tak banyak karamunting yang saya dapatkan. Hanya tiga biji karamunting yang sudah matang dan siap di santap. Sisanya masih belum masak. Warnanya saja masih hijau.
Kalau masih mentah, karamunting juga berwarna hijau
 Rasanya cukup unik, susah sekali saya menjelaskan bagaimana rasa karamunting ini, namun pendek kata menurut saya rasanya enak, habis perkara. Entahlah kalau lidah orang lain. 3 biji karamunting yang sudah masak yang saya dapatkan pun dengan serta merta saya santap. Tedaappp....
Buah karamunting siap santap
|