|
Pernah dapat pemberitahuan macam ini :

Ya... baru-baru aku dapat Kijang Innova produk Toyota itu, namun ini konon katanya, konon kata yang mau nipu. Produk yang satu ini memang sudah sering menjadi korban atas nama. Hal macam ini sebetulnya sudah sangat sering dan bukan barang baru. Cuma kebetulan saja aku baru-baru ini menemui sendiri. Tanpa banyak kata, sudah tinggi indikasi penipuan yang terlihat. Mau tau?
Paling tidak liat dua daerah yang diarsir itu. Barcode dan no telepon. Kalau soal nomor telepon, mungkin masih debatable. Namun lupakan sejenak soal nomor telepon ini. Coba liat barcode yang ada. Sekarang silakan ambil contoh barcode pada barang yang mungkin ada di dekat Anda. Perhatikan pola barcode tersebut, pada garis-garisnya. Apa yang Anda liat dan temukan? Dari sekian banyak system pembuatan barcode, sangat sulit menemukan pola seperti yang terdapat pada kupon itu. Kalau tidak percaya silakan uji dengan memasukkan deretan angka yang terdapat di bawahnya itu pada aplikasi pembuatan barcode, dan coba lakukan variasi metodenya., dan lihat hasilnya.
Tidak mudah bagi komplotan ini untuk membuka kemasan, lalu memasukkan kupon undian palsu, lantas melakukan sealing ulang. Perlu usaha yang detil dan teliti. Belum lagi soal desain kupon dan sejenisnya, yang aku yakin dilakukan dengan keseriusan tinggi, tinggal soal-soal yang bersifat detil saja yang tersisa.
Bahkan, baru saja kalau tidak salah, ada di salah satu harian di Kalsel ini berita tentang seseorang yang tertipu dan telah melakukan pembayaran/transfer sejumlah 5 juta rupiah. Ada lagi kasus yang tidak masuk koran, seorang Ketua RT di Kabupaten Banjar, yang menjual sapinya untuk berangkat ke ibukota negara, konon untuk mengambil hadiah yang dijanjikan dan terlanjur diidamkan. Hasilnya, sapi terjual hadiah tiada.
Aku teringat pula pada masa awal kemunculan penipuan dengan modus SMS berhadiah, dan kebetulan pula aku saat itu aku mendapatkan uang tunai puluhan juta serta diminta untuk menghubungi seseorang yang nomor teleponnya tertera di SMS yang sama. Dengan santai ku telpon nomor yang bersangkutan, setelah mereka selesai meyakinkanku bahwa aku memang memperoleh hadiah, maka kusampaikan dengan serius pula, "...silakan saja Pak diurus soal pencairannya, kalau perlu surat kuasa nanti saya kirimkan. Hasilnya kita bagi dua, 50-50..." sontak terdengat suara tuuuuuuuuuuuut... tanda telpon diputuskan oleh mereka, dan aku cekikikan sendiri.
Kok ya masih ada saja yang tertipu. Memang bikin heran. Mungkin kita ini sudah terlalu banyak mengkonsumsi makanan instant, sehingga pola pikir dan tindak sudah menjadi instant pula. Cenderung melupakan dengan yang dinamakan proses. Satu hal yang kupercayai, bahwa memperoleh uang dengan jalan memeliharan tuyul pun perlu proses dan usaha.
Namun terlepas dari itu semua, aku salut dengan modus penipuan macam ini. Seandainya saja penipuan ini (dan perampokan) adalah salah satu metode mencari duit yang dibenarkan oleh agama dan negara, maka aku akan lebih salut dan hormat pada para pelakunya dari pada para penjilat dan pengemis intelek itu.
Bisa jadi hikmah kurang penting:
Penampilan sungguh dapat menipu. Pakai peci dan surban belum tentu jujur dan amanah, bahkan ada yang menjadi penjilat dan pengemis ulung. Namun, bagaimanapun penampilan seorang Sandra Dewi, tetap saja ia menarik secara fisik.

|