|
Kamis, 29 Mei 2008 |
 Anda suka pelem-pelem yang beraroma spionase? jika jawabannya adalah iya, maka mungkin kita berada pada kelompok yang sama. Walaupun kegandrunganku tidak sebagaimana pelem mafia, tapi menyaksikan pelem dengan aroma spionase cukup mengasyikkan. Walaupun cuma sebuah mini seri, namun The Company bagiku adalah sebuah tontonan yang menarik, sebatas tontonan. Bagaimanapun, aku tidak tau dengan persis, apakah pelem ini memang didasarkan pada kisah-kisah nyata aktivitas agensi intelijen amerika yang bermerk CIA itu. Karena itulah, aku suka sebatas sebuah tontonan. The Company, menurut pelem ini adalah sebuah sandi atau istilah lain bagi CIA, episode yang sudah ku saksikan memang cukup membuatku tertarik. Pergerakan dan persaingan dunia intelijen, utamanya dalam era perang dingin, antara CIA dan KGB. Pelem ini memiliki setting yang beragam, dari konflik di jerman, sampai dengan yang tadi kusaksikan adalah cerita tentang pemberontakan di Hungaria dan Kuba.
|
|
Memang masih ada lanjutannya...
|
|
|
Jumat, 25 April 2008 |
 Semua kritikus bahwa film karya Brian de Palma ini adalah sebuah mahakarya seni, mengagumkan, menegangkan, lebih dari sekedar realita kehidupan tentang seorang gembong mafia yang menguasai Chicago di masa itu, dan pihak berwajib bersumapah untuk menjatuhkannya. Cerita klasik mengenai konfrontasi antara kebaikan dan kejahatan yang dibintangi Kevin Costner sebagai agen federal Eliot Ness, robert de Niro sebagai gembong Mafia yang tak terkalahkan Al Capone dan Sean Connery sebagai Malone, seorang polisi yang mengajarkan kepada Ness bagaimana untuk mengalahkan para mafia: Tembak lebih cepat dan tembak lebih dahulu Wajib Tonton bagi penggemar genre macam ini
|
|
|
Jumat, 25 April 2008 |
 Nicole Kidman (Periah Academy Award, Aktris Terbaik 2005, The Hours) membintangi film ini bersama pemenang Academy Award lainnya, renee Zellweger, dan Jude Law. Pada awal perang sipil, para pria Cold Mountain, Carolina Utara akan segera bergabung dengan tentara konfederasi. Ada(Kidman) telah bresumpah untuk menunggu Inman (Law), tapi saat perang berlanjut dan surat-surat tidak terjawab, dia harus mencari keinginan untuk tetap bertahan hidup. Pada akhir perang, hati manusia akan ditindas, impian-impian terpenuhi dan kekuatan dari jiwa manusia akan diuji, tapi takkan bisa dipatahkan.
|
|
|
Jumat, 25 April 2008 |
 Direncanakan dalam waktu 10 tahun, eik Sergio Leone menggambarkan 50 tahun sjarah dunia penjahat dan menawarkan keanekaragaman peran bagi para aktor hebat. Robert de Niro dan James Wood berperan sebagai sahabat sejati yang bekerja sama menyelesaikan masalah kematian dan misteri. Film ini didukung oleh Tueday Weld, Joe Pesci, Jennifer Connelly, Elizabeth McGovern dan para aktor muda yang memainkan karakter sentral sebagai anak kelompok minoritas. Menyaksikan film ini seperti "dihanyutkan oleh ketenangan dan kekuatan sutradara yang membuat karyanya dalam media yang dipuja" (Kenneth Turan, Los Angeles Times)
|
|
|
Jumat, 25 April 2008 |
 Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja, Hok Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya "Untuk apa semua perlawanan ini?". Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."
|
|
|